Islamcinta’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

RAHASIA KHUSYUK DALAM SHALAT Juli 12, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — islamcinta @ 2:54 pm
Tags:

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?”
Hatim berkata : “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?”
Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-

1. bertaubat

2. menyesali dosa yang dilakukan

3. tidak tergila-gilakan dunia

4. tidak mencari / mengharap pujian orang (riya’)

5. tinggalkan sifat berbangga

6. tinggalkan sifat khianat dan menipu

7. meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufahami maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.”
Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

 

Bangunlah Suamiku, Semoga Allah Merahmatimu Juli 12, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — islamcinta @ 2:52 pm
Tags:

Dari Abu Hurairah ra, Rasululah saw bersabda:

Hendaklah kalian Qiyamul lail (shalat tahajjud), karena sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hidup sebelum kalian. Ia adalah salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah, penghapus kesalahan dan pencegah terjadinya perbuatan dosa.” (HR Tirmidzi)

Sebagai seorang suami yang teladan, beliau Nabi saw tidak lupa mengingatkan masalah ini pada istri beliau, Aisyah. Tepatnya usai melaksanakan shalat malam dan hendak melaksanakan witir, beliau berkata kepadanya, “Bangunlah dan berwitirlah wahai Aisyah” (HR Muttafaq’Alaih)

Apabila seorang suami bangun pada waktu malam lalu membangunkan istrinya, kemudian keduanya shalat dua rakaat, maka keduanya akan dicatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak mengingat Allah.” (HR Ibnu Majah)

Sebagai teladan bagi muslimah, al-Hitsam bin Hammaz bercerita, “Aku punya istri yang sering tidak tidur di malam hari, aku tidak kuat bersamanya dalam kondisi bangun di malam hari. Bila aku terlihat ngantuk ia menyelaniku dengan air dan selalu memberi isyarat dengan kakinya, sembari berkata, “Apakah engkau tidak malu pada Allah? Sampai engkau terus mendengkur tidur? Demi Allah aku malu atas apa yang engkau perbuat.”

Diceritakan juga, di negeri Yaman ada seorang wanita ahli ibadah, bila menjelang malam ia berkata, “Wahai jiwa, malam ini adalah malammu, maka bangun dan beribadahlah karena bisa jadi tidak ada hari setelah ini bagimu.” Hingga ia pun shaum dan sungguh-sungguh dalam ibadah.

Madrasah Para Muslimah

Bila saja Rasulullah saw telah Allah perintahkan agar bangun di malam hari, bermunajat pada Rabbnya, itu semua agar ia mampu mengemban tugasnya sebagai Rasul, “Sesunggunya Aku akan menurunkan perkataan yang berat.”

Maka demikian pula seorang muslimah, ia pun memiliki kewajiban dan amanah yang erat, seperti berdakwah, mendidik atau lainnya. Terlebih bila sudah berkeluarga hingga sibuk dengan banyak pekerjaan rumah, semenjak dari pagi mempersiapkan segalanya untuk anak dan suami, sampai malam pekerjaan bisa belum selesai. Itu semua merupakan kewajiban rutin yang bisa jadi mengundang masalah, maka pada siapa lagi mengadukan semuanya kalau bukan pada yang Maha Kuasa?

Suatu ketika Ummu Malik mengeluhkan kesulitannya dalam mendidik anak-anaknya, belum lagi ia sebagai pekerja dan kesibukan rumah tangga yang begitu banyak, hingga ia melihat semuanya bak musibah besar dalam hidupnya. Tapi kemudian teman dekatnya memberikan nasihat agar menghidupkan shalat malam, meminta pada Allah agar diperbaiki kondisi keluarganya. Maka ia berkesimpulan, “Banyak orang mengatakan, ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Aku menyarankan, agar seorang ibu benar-benar menjadi madrasah bagi anak-anaknya, hendaknya kedudukan ini didukung dengan rajin bangun di malam hari, sehingga madrasahnya menjadi lebih mulia dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan suaminya.”

Beliau juga patut dicontoh oleh para muslimah yang sedang menyusui. Dalam ceritanya, “Ketika anakku yang kecil meminta disusui sebelum waktu fajar, itu sama halnya dengan peringatan agar ibunya juga segera bangun shalat malam.”

Lebih Cantik Dengan Tahajjud

Diantara faktor pendorong bagi para muslimah rajin shalat malam, ternyata mereka yang tekun shalat malam akan terlihat wajahnya menjadi lebih cantik, badan sehat, ruhnya juga menjadi lebih jernih. Seseorang bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Kenapa orang-orang mengerjakan shalat malam itu adalah orang yang paling bagus wajahnya?” dia menjawab, “Karena mereka berkhalwat dengan Rabbnya hingga Allah memberikan cahaya-NYA kepada mereka.”

Seimbangan Tidak Berlebihan

Ketika Nabi SAW masuk ke dalam masjid dan mendapatkan tali terikat di antara dua tiang, beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Itu adalah tali milik Zainab untuk mengusir rasa kantuk dari dirinya.” Nabi SAW bersabda, “Lepaskan tali itu. Hendaknya kalian shalat sesuai dengan kemampuan, jika dia lelah maka tidurlah.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Dalah hal ini, juga meski seimbang ketika berhadapan dengan kewajiban lain, apalagi bila hukumnya lebih diberatkan tentu lebih diutamakan, seperti melayani suami di malam hari. Karena bisa jadi seorang istri merasa terkendala untuk shalat malam demi melayani suami. Dan yang terbaik adalah saling membantu agar lebih banyak mentaati perintah Allah SWT dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka benar apa yang Rasul sabdakan, “Sungguh, Allah akan merahmati seorang suami yang bangun pada waktu malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan istrinya lalu istrinya juga shalat. Jika istrinya enggan untuk bangun, maka ia memerciki wajah istrinya dengan air. Dan sungguh, Allah akan merahmati seorang istri yang bangun pada waktu malam lalu shalat, kemudian ia membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun, maka ia memrciki wajah suaminya dengan air.” (HR. An-Nasa’i)