<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AKU CINTA ISLAM</title>
	<atom:link href="http://islamcinta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamcinta.wordpress.com</link>
	<description>Artikel - Download Kajian - Download Buku - DLL</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Nov 2011 04:16:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='islamcinta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3660330a29fcf2aede630b53ac070351?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>AKU CINTA ISLAM</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://islamcinta.wordpress.com/osd.xml" title="AKU CINTA ISLAM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://islamcinta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Muflis (Orang yang Pailit)</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/26/muflis-orang-yang-pailit/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/26/muflis-orang-yang-pailit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 14:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[Saat menunggu penerimaan gelar Doktor, saya mengambil cuti dua minggu. Pada suatu malam, saya membaca dan mengulang-ngulang kembali materi tulisan disertasi saya. Saat itu waktu menunjukkan waktu pukul dua malam. Tiba-tiba timbul keinginan kuat dalam diri saya untuk datang ke rumah sakit. Maka saya membawa buku-buku dan pergi ke rumah sakit. Setibanya di bagian Urologi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=761&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-CdNgY5XffZg/TaFgdI-_ckI/AAAAAAAAAKE/Xb7S0SLbHhQ/s1600/Sandfence.jpg"><span style="color:#000000;">Saat menunggu penerimaan gelar Doktor, saya mengambil cuti dua minggu. Pada suatu malam, saya membaca dan mengulang-ngulang kembali materi tulisan disertasi saya. Saat itu waktu menunjukkan waktu pukul dua malam. Tiba-tiba timbul keinginan kuat dalam diri saya untuk datang ke rumah sakit. Maka saya membawa buku-buku dan pergi ke rumah sakit.</span></a></span></p>
<div>Setibanya di bagian Urologi (saluran kencing), seorang perawat berkebangsaan Inggris mengatakan kepadaku, &#8220;Dokter, ada seorang pasien yang sedang menghadapi sakaratul maut, saya harap anda mau menyalatinya -maksudnya ialah mentalqininya-.&#8221;</div>
<div>Saya menanyakan penyakit pasien tersebut. Ia menjawab, &#8220;Ia terserang kanker <em>Urinary Bladder </em>(kandung kemih). Kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya hingga mencapai otaknya. Pasien tersebut telah hilang kesadarannya sejak empat minggu yang lalu.<span id="more-761"></span></div>
<div>Saya menanyakan kondisinya saat ini. Ia menerangkan, &#8220;Detak jantungnya lemah sekali. Antara 20-30 per menit. Tekanan maksimal sekitar 40.&#8221;</div>
<div>Saya bertanya, &#8220;Siapa namanya?&#8221; Perawar itu menjawab, &#8220;Muhammad.&#8221; Saya bertanya lagi, &#8220;Berapa umurnya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;40 tahun&#8221;.</div>
<div>Saya memasuki ruang perawatan pasien tersebut. Tahukah Anda apa yang saya lihat? Saya melihat wajah putih kemerah-merahan (segar), sehingga saya ragu betulkah orang ini yang dimaksud?</div>
<div>Saya bertanya kepada perawat tersebu, &#8220;inikah orangnya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</div>
<div>Sungguh, saya sangat heran dengan kondisi pasien yang segar bugar jika merujuk dari keterangan perawat tadi. Lalu saya mendekatinya. Dengan tanpa sadar, saya menghadapkannya ke arah kiblat.</div>
<div>Saya memanggil orang tersebut, &#8220;Muhammad?&#8221; Ia menyahut, &#8220;Ya.&#8221; Saya katakan, &#8220;Ucapkan <em>&#8216;Asyhadu alla ilaha ilallah wa anna Muhammad rasulullah&#8217;</em>.&#8221; Ia mengucapkannya. Serta merta ruhnya keluar menghadap Tuhannya. Semoga Allah merahmatinya dan mempertemukan kita, orang tua kita dan keluarga kita di surga firdaus.</div>
<div>Perawat yang menemaniku merasa keheranan. Bagaimana mungkin pasien itu menyahut panggilanku dalam keadaan sakaratul maut? Apalagi ia telah kehilangan kesadarannya sejak empat minggu yang lalu?</div>
<div>Perawat itu memintaku untuk menghubungi keluarganya dan memberitahukan kematian saudaranya. Maka saya menghubungi salah seorang saudaranya agar segera datang ke rumah sakit.</div>
<div>Saya ceritakan tentang kejadian yang baru saya alami kepada saudaranya. Kemudian saya tanyakan tentang sisi-sisi kehidupan orang tersebut saat ia masih hidup. Saudaranya tersebut menjelaskan, &#8220;Almarhum* itu mempunyai sifat-sifat yang jarang dimiliki oleh orang lain. Ia tidak pernah berbuat <em>ghibah </em>(membicarakan atau mengungkit-ungkit kejelekan orang lain). Ia tidak pernah mengizinkan orang lain berbuat <em>ghibah </em>di dekatnya. Dan jika ia tidak bisa menghalangi orang yang berbuat <em>ghibah </em> di dekatnya, ia segera pergi menjauh.&#8221;</div>
<div><em>Oleh : dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP (dokter spesialis bedah dan jantung), dalam bukunya &#8220;Kesaksian Seorang Dokter : Mensucikan Hati Melalui Kisah-kisah Nyata&#8221;</em></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/761/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=761&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/26/muflis-orang-yang-pailit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IBNUL MUNKADIR (Menangis Karena Satu Ayat)</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/ibnul-munkadir-menangis-karena-satu-ayat/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/ibnul-munkadir-menangis-karena-satu-ayat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 10:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu malam, Muhammad Ibnu al-Munkadir melakukan Qiyamullail, ia menangis bahkan semakin keras menangis sehingga keluarganya kaget lalu bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis seperti ini.?” Mereka merasa heran, apalagi tangannya semakin keras. Kemudian keluarganya menemui Abi Hazm untuk memberitahukan masalah ini. Abu Hazm datang ke rumahnya sementara ia pun masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=756&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu malam, Muhammad Ibnu al-Munkadir melakukan Qiyamullail, ia menangis bahkan semakin keras menangis sehingga keluarganya kaget lalu bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis seperti ini.?” Mereka merasa heran, apalagi tangannya semakin keras.</p>
<p>Kemudian keluarganya menemui Abi Hazm untuk memberitahukan masalah ini. Abu Hazm datang ke rumahnya sementara ia pun masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang membuatmu menangis seperti ini, tangisan yang membuat keluargamu keheranan.?” Dia menjawab, “Aku tadi membaca salah satu ayat al-Qur’an.” Beliau bertanya, “Aya apa gerangan.?” Ia menjawab, “</p>
<p>“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS.az-Zumar:47)<span id="more-756"></span></p>
<p>Abu Hazm pun ikut menangis bahkan semakin keras tangisan keduanya. Kemudian salah seorang keluarga al-Munkadir berkata, “Kami memanggilmu untuk menenangkan kami dari tangisnya, mengapa engkau malah menambah susah kami.?”</p>
<p>Kemudian beliau membertahu penyebab mereka berdua menangis.</p>
<p>Sumber : 99 Kisah Orang Shalih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/756/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=756&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/ibnul-munkadir-menangis-karena-satu-ayat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABU QILABAH (Ayyub Zaman Sekarang)</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/abu-qilabah-ayyub-zaman-sekarang/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/abu-qilabah-ayyub-zaman-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 10:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Suatu hari aku berjalan-jalan ke pantai dengan dikawal gerobak Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai ternyata aku tiba di Bathihah.Di pantai ini ada sebuah kemah, dihuni seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya, sementara pendengaran dan penglihatannya lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisan.Dengan lisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=751&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Suatu hari aku berjalan-jalan ke pantai dengan dikawal gerobak Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai ternyata aku tiba di Bathihah.Di pantai ini ada sebuah kemah, dihuni seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya, sementara pendengaran dan penglihatannya lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisan.Dengan lisan itu ia memanjatkan doa, &#8216;Ya Allah berikanlah kepadaku kemampuan untuk senantiasa memujiMu. Dengannya aku dapat memuaskan diriku dalam mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan Engkau benar-benar telah memuliakan (melebihkan) aku dari segenap makhlukMu&#8217;.&#8221; <span id="more-751"></span></p>
<p>Abdullah berkata, &#8220;Demi Allah, orang ini harus aku dekati. Akan aku tanyakan mengapa ia mengucapkan doa seperti itu? Apakah dia benar-benar mengerti perkataan yang ia ucapkan ataukah sekedar ilham yang diilhamkan kepadanya?&#8221;</p>
</div>
<div>Aku lantas mendatangi laki-laki itu, aku ucapkan salam kepadanya, dan aku katakan bahwa aku mendengar perkataan yang diucapankan tadi, &#8220;Ya Allah…&#8221; aku bertanya, &#8220;Kenikmatan apakah yang telah dikaruniakan Allah kepadamu? Dan kemuliaan seperti apakah yang telah dianugerahkan sehingga engkau bersyukur sedemikian itu?&#8221;Lelaki itu menjawab, &#8220;Apakah engkau tidak melihat apa yang telah Allah perbuat kepadaku? Demi Allah, sekiranya Allah mengirim api dari atas langit untuk membakar tubuhku, memerintahkan gunung-gunung untuk menghancurkan aku, berkenan menyuruh lautan untuk menenggelamkan aku dan bumi mene-lan aku, maka sungguh aku tetap akan bersyukur kepada Allah atas lisan yang telah dikaruniakan kepadaku.Tetapi wahai hamba Allah, engkau telah datang kepadaku dan aku butuh bantuanmu. Kamu sendiri sudah tahu bagaimanakah kondisi tubuhku, aku sendiri tidak mampu berbuat untuk menolong atau menciderai diriku. Sebelumnya aku ditemani anak laki-lakiku, dia selalu datang kepadaku pada waktu-waktu shalat. Dia lah yang mewudhuiku. Ketika aku lapar dan haus dia yang menyuapi dan memberi minum kepadaku. Sudah tiga hari ini aku kehilangan dia, kalau engkau berkenan carilah ia. Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah, tidak ada perjalanan yang lebih agung dan mendapat pahala besar di sisi Allah selain perjalanan demi membantu sesama saudara seperti engkau.&#8221;</p>
<p>Maka aku pun mulai berjalan untuk mencari anaknya yang telah beberapa hari hilang. Belum jauh aku berjalan, tiba-tiba aku sampai di sebuah timbunan pasir, di situ aku menemukan seorang anak yang telah diterkam dan dimakan binatang buas. Aku ucapkan, <em>&#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.&#8221;</em> Aku bergumam, &#8220;Apa yang harus aku katakan kepada lelaki tua renta itu?&#8221;</p>
<p>Dalam perjalanan pulang menuju kemah itu aku teringat dengan kisah Nabi Ayyub RA. Setelah aku tiba di kemah lelaki itu, aku ucapkan salam kepadanya, ia pun menjawab salamku.</p>
<p>Dia bertanya, &#8220;Bukankah engkau sahabatku?&#8221;</p>
</div>
<div>Aku jawab, &#8220;Ya.&#8221;Dia bertanya, &#8220;Apa yang telah engkau lakukan untuk meme-nuhi kebutuhanku?&#8221;</div>
<div>Aku balik bertanya, &#8220;Siapakah yang lebih mulia di sisi Allah, engkau atau Nabi Ayyub?&#8221;</div>
<div>Dia menjawab, &#8220;Pasti Nabi Ayyub.&#8221;Aku bertanya, &#8220;Apakah engkau tahu apa yang telah diperbuat Allah kepadanya? Bukankah ia telah diuji dengan harta, keluarga dan anak-anaknya?&#8221;</div>
<div>Dia menjawab, &#8220;Benar.&#8221;</div>
<p>Aku bertanya, &#8220;Bagaimana dia menghadapi kenyataan itu?&#8221;</p>
<p>Dia menjawab, &#8220;Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid.&#8221;</p>
<div>Aku bertanya, &#8220;Namun, bukankah kerabatnya dan orang-orang yang mencintainya tidak rela menerima musibah itu?&#8221;</div>
<div>Dia menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</div>
<div>Aku bertanya, &#8220;Sementara itu, bagaimana Ayyub menyikapi semua itu?&#8221;<br />
Dia menjawab, &#8220;Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid.&#8221;Aku bertanya, &#8220;Tetapi bukankah ia kemudian menjadi ton-tonan bagi orang-orang yang berjalan, apakah engkau tahu?&#8221;<br />
Dia menjawab, &#8220;Iya.&#8221;Aku bertanya, &#8220;Bagaimana dia mensikapi semua ini?&#8221;<br />
Dia menjawab, &#8220;Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senan-tiasa bersyukur dan bertahmid. Sekarang, persingkatlah pembi-caraanmu!, semoga Allah mencurahkan rahmat kepadamu.&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Wahai kawan, anakmu, yang aku engkau suruh untuk mencarinya, sudah aku temukan berada di antara timbunan pasir. Diterkam dan dimakan binatang buas, semoga Allah mem-berimu pahala yang besar dan melimpahkan kesabaran.&#8221;</p>
<p>Laki-laki yang ditimpa musibah itu mengucapkan, <em>&#8220;Alhamdulillah, segala puji milik Allah. Dzat yang tidak menciptakan dari garis keturunanku seorang hamba pun yang bermaksiat kepadaNya sehingga disiksa dalam api Neraka.&#8221;</em> Kemudian dia mengucapkan,<em> &#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.&#8221;</em> Ia menangis tersedu-sedu, lalu menghembuskan nafas terakhir.</p>
</div>
<p>Seketika itu aku pun mengucapkan <em>Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun</em>. Betapa besar musibah yang menimpaku.</p>
<p>Mayat lelaki ini kalau aku tinggalkan pastilah dimakan binatang buas. Tetapi kalau aku urus, aku tidak bisa berbuat banyak. Lalu aku kafani dia dengan kain sorbanku. Aku duduk di sisi kepalanya sambil menangis.</p>
<p>Tiba-tiba saja ada empat orang lelaki masuk ke kemah tanpa permisi, mereka bertanya, &#8220;Wahai hamba Allah, apa yang terjadi padamu? Bagaimana kabarmu?&#8221; Kemudian aku ceritakan kepada mereka tentang diriku dan lelaki itu. Mereka bertanya, &#8220;Bolehkah kami melihat wajahnya, siapa tahu kami kenal?!&#8221;</p>
<p>Aku membuka wajahnya, keempat orang itu memperhati-kan dengan seksama, kemudian menciumi mata dan tangannya, lalu berkata, &#8220;Benar, selama ini matanya tidak pernah dipergu-nakan untuk melihat hal-hal haram. Telah sekian lama anggota tubuhnya hanya digunakan untuk bersujud tatkala orang-orang terlelap tidur.&#8221;</p>
<div>Aku bertanya, &#8220;Sebenarnya siapakah orang ini?&#8221;<br />
Mereka menjawab, &#8220;Abu Qilabah al-Jarami, teman dekat Ibnu Abbas. Orang ini sangat mencintai Allah dan Nabi SAW.&#8221;Kemudian kami memandikan jenazahnya, mengkafani dengan pakaian yang ada, kami shalatkan dan kami kuburkan. Setelah selesai, orang-orang itu pulang begitu juga saya pulang ke markas.Menjelang malam, aku rebahkan tubuhku untuk tidur. Tiba-tiba aku bermimpi seperti seseorang yang tidur lalu mimpi berada di salah satu taman Surga dikelilingi oleh dua bidadari di antara para bidadari Surga, mereka menyenandungkan, <em>&#8220;Kesela-matan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221;</em> (Ar Ra&#8217;d: 24).</p>
<p>Aku bertanya, &#8220;Bukankah kamu ini temanku?&#8221;<br />
Dia menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</p>
</div>
<p>Aku bertanya, &#8220;Dari mana kamu peroleh kedudukan dan semua ini?&#8221;</p>
<p>Dia menjawab, &#8220;Sesungguhnya Allah memiliki beberapa tingkat/tempat yang sangat membahagiakan penghuninya yang tidak dapat dicapai kecuali melalui kesabaran ketika ditimpa musibah, dan bersyukur ketika dalam kenikmatan disertai rasa takut kepada Allah SWT dalam keadaan sepi maupun ramai.&#8221;</p>
<p>Sumber : Buku 99 Kisah Orang Shalih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/751/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=751&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/25/abu-qilabah-ayyub-zaman-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Hudzaifah dan Siksaan yang Sangat Pedih</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/abdullah-bin-hudzaifah-dan-siksaan-yang-sangat-pedih/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/abdullah-bin-hudzaifah-dan-siksaan-yang-sangat-pedih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 13:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Dia menjadi tawanan bangsa Romawi, dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yang kejam. Di dalam penjara disediakan minuman yang dicampur arak dan daging babi panggang, untuk dimakan saat lapar dan minum khamar, ketiga macam suguhan itu sama sekali tidak disentuhnya. Lalu ia dikeluarkan dari penjara saat mereka mengkhawatirkan kematiannya. Dia berkata pada dirinya, “Demi Allah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=746&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia menjadi tawanan bangsa Romawi, dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yang kejam. Di dalam penjara disediakan minuman yang dicampur arak dan daging babi panggang, untuk dimakan saat lapar dan minum khamar, ketiga macam suguhan itu sama sekali tidak disentuhnya.</p>
<p>Lalu ia dikeluarkan dari penjara saat mereka mengkhawatirkan kematiannya. Dia berkata pada dirinya, “Demi Allah, sesungguhnya ini semua telah menjadi halal bagiku karena aku dalam kondisi terpaksa, hanya saja aku tidak ingin berbahagia di atas bencana yang menimpa kalian dengan sebab berpegang teguh pada Islam.”<span id="more-746"></span></p>
<p>Abu Rafi’ berkata, “Umar mengirim pasukan tentara ke Romawi. Kemudian musuh menangkap Abdullah bin Hudzafah sebagai tawanan perang, lalu dihadapkan kepada raja, mereka berkata, ‘Orang ini termasuk sahabat dekat Muhammad.’</p>
<p>Raja bertanya, ‘Maukah kamu masuk agama Nasrani dengan imbalan setengah kekuasaanku aku berikan kepadamu?’</p>
<p>Abdullah bin Hudzafah menjawab, ‘Sekiranya engkau berikan seluruh kekuasaanmu kepadaku, dan seluruh yang dimiliki bangsa Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad sekejap mata pun.’</p>
<p>Raja berkata, ‘Jika demikian berarti kamu mesti dihukum mati!’</p>
<p>Abdullah menjawab, ‘Terserah kamu!’</p>
<p>Kemudian diperintahkan agar dilaksanakan hukuman mati atasnya, ia diletakkan dalam tiang salib. Raja berkata, ‘Bidiklah ia dari dekat!’</p>
<p>Raja berkata demikian sambil menawarkan agama Nasrani kepadanya, namun ia tetap menolak. Lalu ia diturunkan dari tiang salib.</p>
<p>Raja kemudian meminta supaya ajudan merebus air hingga mendidih dan memanggil dua orang tawanan muslim. Salah satu dari mereka dilemparkan ke dalam periuk itu, kemudian raja menawarkan kepada Abdullah untuk pindah agama. Ia tetap menolak tawaran tersebut. Kemudian Abdullah menangis.</p>
<p>Karena tangisan ini, ada seseorang yang menyampaikan kepada raja bahwa Abdullah menangis. Maka Raja pun mengira bahwa Abdullah telah berputus asa.</p>
<p>Raja berkata, ‘Bawalah kemari!’</p>
<p>Raja bertanya, ‘Apa yang menyebabkan kamu menangis?’</p>
<p>Abdullah menjawab, ‘Karena aku hanya mempunyai satu nyawa yang apabila dilemparkan ke dalam periuk itu maka langsung akan musnah. Aku membayangkan, alangkah bahagia sekiranya aku mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambutku yang merasakan siksaan seperti itu dalam rangka mempertahankan agama Allah.’</p>
<p>Raja berkata, ‘Apakah kamu bersedia mencium kepalaku, agar kamu bebas?’</p>
<p>Abdullah menjawab, ‘Bersama seluruh tawanan Muslim?’</p>
<p>Raja menjawab, ‘Ya.’</p>
<p>Maka Abdullah mencium kepala raja.</p>
<p>Selanjutnya para tawanan Muslim yang telah bebas itu menghadap Umar dan menceritakan semua yang terjadi.</p>
<p>Umar berkata, ‘Adalah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mencium kepala Ibnu Hudzafah, dan akulah orang yang pertama yang akan memulainya.’ Lalu Umar mencium kepala Abdullah.” (<em>Usudul Ghabah</em>, 3/212.)</p>
<p>Sumber: <em>99 Kisah Orang Shalih</em>/alsofwah.or.id<br />
Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/abdullah-bin-hudzaifah-dan-siksaan-yang-sangat-pedih/www.KisahMuslim.com" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/746/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=746&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/abdullah-bin-hudzaifah-dan-siksaan-yang-sangat-pedih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teladan Ibnu Umar Radhiallahu &#8216;anhuma Senantiasa Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/teladan-ibnu-umar-radhiallahu-anhuma-senantiasa-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/teladan-ibnu-umar-radhiallahu-anhuma-senantiasa-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 13:41:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Dari Nafi’ pelayan Ibnu Umar berkata, “Apabila Ibnu Umar sangat mengagumi sesuatu dari hartanya, niscaya ia akan mempersembahkannya kepada Allah Ta’ala.” Nafi’ berkata, “Dan hamba sahayanya mengetahui akan hal itu lalu ada salah seorang dari budak-budaknya bersemangat untuk beribadah di masjid, dan ketika Ibnu Umar melihat keadaan dirinya yang bagus tersebut, maka dia memerdekakan hamba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=743&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Nafi’ pelayan Ibnu Umar berkata, “Apabila Ibnu Umar sangat mengagumi sesuatu dari hartanya, niscaya ia akan mempersembahkannya kepada Allah <em>Ta’ala</em>.” Nafi’ berkata, “Dan hamba sahayanya mengetahui akan hal itu lalu ada salah seorang dari budak-budaknya bersemangat untuk beribadah di masjid, dan ketika Ibnu Umar melihat keadaan dirinya yang bagus tersebut, maka dia memerdekakan hamba tersebut, namun para sahabatnya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah, tidaklah mereka itu kecuali hanya membohongimu.’ Ibnu Umar menjawab, ‘Barangsiapa yang berdusta terhadap kami karena Allah niscaya kami tertipu karenaNya’.” ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam<em> al-Hilyah</em>, 1/294)<span id="more-743"></span></p>
<p>Ayyub bin Wa’il berkata, “Ibnu Umar diberikan sepuluh ribu riyal lalu ia membagi-bagikan harta tersebut, lalu keesokan harinya ia meminta makanan untuk binatang yang dikendarainya dengan harga satu dirham utang,” (<em>Shifat ash-Shafwah</em>)</p>
<p>Dan dari Nafi’ ia berkata, “Apabila Ibnu Umar membagi-bagikan tiga puluh ribu dalam suatu majelis, kemudian tiba bulan baru, pastilah ia tidak makan sepotong daging pun.” (<em>Hayat ash-Shahabah</em>)</p>
<p>Abu Nuaim meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, “Tidaklah Abdullah bin Umar<em> radhiallahu ‘anhuma</em> makan kecuali bersama orang-orang miskin, hingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan tubuhnya.”</p>
<p>Dan dari Abu Bakar bin Hafsh, “Bahwasanya tidaklah Abdullah bin Umar makan dengan suatu makanan kecuali bersama seorang anak yatim.”</p>
<p>Dari Said bin Hilal berkata, “Abdullah bin Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> sangat menginginkan makan ikan, namun orang-orang tidak menemukan ikan tersebut kecuali satu ekor saja, lalu istrinya menghidangkannya untuk dirinya, namun setelah masakan ikan itu diletakkan di hadapannya, datanglah seorang miskin di depan pintu, lalu Ibnu Umar berkata, ‘Berikanlah ikan tersebut kepadanya,’ istrinya pun berkata, ‘<em>Subhanallah</em>, kita dapat memberinya satu dirham, sedangkan engkau, makan saja ikan tersebut.’ Dia berkata, ‘Tidak, karena Abdullah bin Umar (maksudnya adalah dirinya) menyukai ikan tersebut, dan tatkala Ibnu Umar telah menyukai sesuatu niscaya dia tinggalkan hal itu untuk Allah sebagai suatu sedekah’.”</p>
<p>Dinukil dari, “<em>Keajaiban Sedekah dan Istighfar</em>”, karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, edisi terjemah cetakan Pustaka Darul Haq (alsofwah.or.id)<br />
Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/teladan-ibnu-umar-radhiallahu-anhuma-senantiasa-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi/www.KisahMuslim.com" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/743/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=743&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/15/teladan-ibnu-umar-radhiallahu-anhuma-senantiasa-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Hanifah (Seorang Imam yang Khusyu)</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/11/abu-hanifah-seorang-imam-yang-khusyu/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/11/abu-hanifah-seorang-imam-yang-khusyu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 14:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[Yazid bin al-Kumaid berkata, &#8220;Abu Hanifah adalah seorang imam yang sangat takut kepada Allah. Suatu ketika Ali bin al-Husain, sang muadzin mengimami kami dalam Shalat Isya&#8217;, dia membaca surat az-Zilzalah. Sementara itu Abu Hanifah menjadi makmum. Setelah selesai mengerjakan shalat, orang-orang pulang ke rumah masing-masing, sedangkan aku melihat Abu Hanifah masih berdzikir sambil menarik nafas. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=739&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Yazid bin al-Kumaid berkata, &#8220;Abu  Hanifah adalah seorang imam yang sangat takut kepada Allah. Suatu ketika  Ali bin al-Husain, sang muadzin mengimami kami dalam Shalat Isya&#8217;, dia  membaca surat az-Zilzalah. Sementara itu Abu Hanifah menjadi makmum.  Setelah selesai mengerjakan shalat, orang-orang pulang ke rumah  masing-masing, sedangkan aku melihat Abu Hanifah masih berdzikir sambil  menarik nafas.</p>
<p>Aku berkata, &#8216;Aku harus beranjak dari  tempat ini!, agar hatinya tidak terganggu oleh kehadiranku.&#8217; Kemudian  aku pulang sementara lampu minyakku yang tinggal sedikit aku tinggalkan  untuk penerangan dalam masjid.</p>
<p>Setelah fajar menjelang,  aku datang lagi ke mesjid. Aku me-lihat Abu Hanifah sedang shalat, dia  memegang jenggotnya sambil berkata, &#8216;Wahai Dzat yang membalas kebaikan  sebesar biji sawi dengan kebaikan, Wahai Dzat yang membalas keburukan  sebesar biji sawi dengan keburukan, jauhkanlah an-Nu’man hambaMu ini  dari api Neraka dan dari perbuatan buruk yang mendekatkan kepada api  Neraka. Masukkanlah ia ke dalam rah-matMu yang sangat luas.&#8217;</p></div>
<p>Kemudian  aku mengumandangkan adzan, tiba-tiba lampu minyak itu menyala terang  menerangi Abu Hanifah yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Ketika aku  menemui beliau, beliau bertanya, &#8216;Apakah kamu ingin mengambil lampu  minyak itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku tadi telah mengumandangkan adzan shalat  Shubuh.&#8217; Beliau berkata, &#8216;Rahasiakan apa yang kamu lihat.&#8217;</p>
<div>Abu  Hanifah kemudian shalat sunnah dua raka’at lalu duduk sehingga aku  mengumandangkan iqamah. Beliau shalat bersama kami dengan wudlu yang  beliau gunakan ketika shalat Isya&#8217; semalam. (Sejak mengerjakan shalat  Isya’ hingga Shubuh, wudhu’ beliau tidak batal-pent)</div>
<p>(SUMBER: Seperti dinukil dari <em>Wafyatul A’yan</em>, 5/412)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=739&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/11/abu-hanifah-seorang-imam-yang-khusyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Mata Taubat</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/10/air-mata-taubat/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/10/air-mata-taubat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 06:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]). &#160; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=721&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka  seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu  [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR.  Tirmidzi [1633]).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh  golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada  naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang  pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3]  seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang  saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya,  [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan  cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku  takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara  sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang  diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di  kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).”  (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).<span id="more-721"></span></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah  mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena  merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari  karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.”  (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan  at-Tirmidzi [1338]).</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih  dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada  tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan  tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah.  Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat  bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena  mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR.  Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan  at-Tirmidzi [1363])</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis  karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak  uang seribu dinar!”.</p>
<p>Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya  air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah  itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran  tubuhku.”</p>
<p>Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an  kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya  bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada  anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya  dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat  an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang  artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap  umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ :  40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun  menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air  mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).</p>
<p>Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah  bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami  tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum  pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun  terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata,  ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada  Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang  dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda  senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan  kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus  menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah  mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus  menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah  melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat  beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu  datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia  melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun  berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah  mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka  Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai  bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku,  sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi  kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan  langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu  Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih  at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).</p>
<p>Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis  tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu  menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya  mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan  masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan  manakah aku di antara kedua golongan itu?”.</p>
<p>al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan  kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku  khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak  memperdulikanku lagi.”</p>
<p>Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah  di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka  beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada  hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan  yang amat dalam.</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang  ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka  beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan  kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang  akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi  nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak  tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.</p>
<p>Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya  lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah  kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya,  dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”</p>
<p>Saya [penyusun artikel] berkata: Kalau al-Hasan al-Bashri saja  menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu  bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak  dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa  quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan  akhlak para salafush shalih? Beginikah seorang salafi, wahai saudaraku?  Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah  mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya?  Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (lihat QS.  al-Maa’idah : 74). Aina nahnu min haa’ulaa’i? Aina nahnu min akhlagis  salaf? Ya akhi, jadilah salafi sejati!</p>
<p>Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah, asbabuhu wa mawani’uhu wa  thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin  ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word.</p>
<p>Penyusun: Ari Wahyudi</p>
<p>http://abumushlih.com/air-mata-taubat.html/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/721/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/721/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=721&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/04/10/air-mata-taubat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Penghuni Surga, Karena Tidak Hasad</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/menjadi-penghuni-surga-karena-tidak-hasad/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/menjadi-penghuni-surga-karena-tidak-hasad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 05:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal. Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=716&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki  penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di  hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya,  sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.</p>
<p>Esok harinya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda lagi,  ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’  Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari  sebelumnya.<span id="more-716"></span></p>
<p>Besok harinya lagi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’  Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi  sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan  kirinya menenteng sandal .</p>
<p>Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara  Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata  kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku,  aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau  mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku  itu.’</p>
<p>Dia menjawab, ‘Silahkan!’</p>
<p>Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam  di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail,  hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir  hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.</p>
<p>Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’</p>
<p>Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap  remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak  sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar  Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau  bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’  Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut  adalah engkau.</p>
<p>Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui  amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu.  Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar.  Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah  berkata demikian?’</p>
<p>Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat,  aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah  mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan  yang diberikan Allah kepadanya.’</p>
<p>Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu  mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu  melakukannya’.”</p>
<p>Sumber: <em>Az-Zuhdu</em>, Ibnul Mubarak, hal. 220 (alsofwah.or.id)<br />
Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/menjadi-penghuni-surga-karena-tidak-hasad/www.KisahMuslim.com" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/716/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/716/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=716&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/menjadi-penghuni-surga-karena-tidak-hasad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lumpuhnya Tangan Sorang Anak yang Berusaha Membunuh Ibunya</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/lumpuhnya-tangan-sorang-anak-yang-berusaha-membunuh-ibunya/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/lumpuhnya-tangan-sorang-anak-yang-berusaha-membunuh-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 05:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Telah diriwayatkan, bahwa ada seorang anak yang durhaka memiliki istri pelacur yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Ibunya sering menasihatinya akan kejelekan istrinya. Akan tetapi dia tidak mendengar nasihat sang ibu karena terpengaruh dengan istrinya. Istrinya adalah seorang pelacur yang bukan berasal dari negerinya dan bukan dari daerahnya. Maka dari itu, bagi orang yang hendak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=714&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah diriwayatkan, bahwa ada seorang anak yang  durhaka memiliki  istri pelacur yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.  Ibunya sering  menasihatinya akan kejelekan istrinya. Akan tetapi dia  tidak mendengar  nasihat sang ibu karena terpengaruh dengan istrinya.  Istrinya adalah  seorang pelacur yang bukan berasal dari negerinya dan  bukan dari  daerahnya. Maka dari itu, bagi orang yang hendak menikah,  hendaklah dia  berhati-hati agar tidak menikah dengan seorang perempuan  yang tidak  diketahui keluarga dan orang-orang yang ada di sekitarnya,  agar dia  tidak binasa dengan kesudahan yang tidak dia inginkan. Ketika  terjadi  perselisihan antara dia dengan ibunya, maka dia berniat membunuh  ibunya  agar berlepas diri darinya, sebagaimana yang disarankan oleh  istrinya.  Maka dia berkata kepada ibunya, “Maukah ibu pergi jalan-jalan   bersamaku?”<span id="more-714"></span></p>
<p>Sang ibu menyangka bahwa anaknya telah berubah menjadi anak yang   berbakti kepadanya, maka dengan gembira dia menjawab, “Tentu anakku, aku   mau pergi bersamamu. Semoga  Allah memberimu taufik kepada kebaikan.”   Sang anak adalah seorang sopir. Ibunya ikut naik mobil bersamanya dan   pergi ke padang pasir, sementara dia merencanakan kejahatan kepada   ibunya. Ketika ibunya menangis bahagia karena anaknya berbakti kepadanya   dan mau mengajaknya jalan-jalan, maka mobil itu melaju di jalan raya   umum hingga kemudian keluar dari jalur dan melaju di sahara, sampai ke   gundukan bebatuan dan tempat binatang liar.</p>
<p>Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya dan berkata kepada ibunya,   “Turunlah.” Sang ibu yang shalihah itu bertanya, “Apakah kita sudah   sampai ke tempat orang yang mengundang kita?” Dia menjawab, “Tidak ada   seorang pun yang mengundang kita, akan tetapi aku akan membunuh ibu,   karena ibu telah membuat susah kehidupanku dan istriku.” Maka dengan   serta merta ibunya menangis seraya mengatakan, “Kalau begitu   tempatkanlah aku di sebuah rumah sendirian.” Dia berkata, “Jika  aku   melakukan itu, niscaya orang-orang akan mencelaku. Tapi  jika aku   membunuh ibu, maka tidak ada  yang mengetahui kita.” Ibunya berkata,   “Allah Mahatahu dengan perkaramu, dan Dia pasti akan membalasmu dan juga   istrimu.”</p>
<p>Dengan nada mencemooh, dia berkata kepada ibunya, “Kalau begitu,   Allah pasti akan menyelamatkan ibu dari cengkeramanku.” Dengan suara   lantang ibunya berkata, “Allah pasti akan membalasmu. Aku tidak takut   mati selama kamu sudah berketetapan hati untuk membunuhku. Karena Allah   Ta’ala telah berfirman, <em>‘Maka apabila telah datang waktunya   (kematian), mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan   tidak dapat (pula) memajukannya’.” </em>(Al-A’raf: 34).</p>
<p>Lantas, sang anak hendak membunuh ibunya. Akan tetapi ibunya   berkata, “Biarkanlah aku shalat dua rakaat terlebih dahulu, apabila aku   telah sampai pada posisi duduk tasyahud dalam keadaan membaca tasyahud,   maka bunuhlah aku jika kamu mau. Karena aku tidak mau melihatmu   membunuhku.”</p>
<p>Demikianlah, ibunya kemudian menghadap kiblat dan dengan suara yang penuh kepercayaan kepada Allah, dia bertakbir, <em>“Allahu Akbar.”</em> Dia mulai shalat dengan khusyu’ yang sempurna. Sementara anaknya   menunggu diam penuh ketakutan. Akan tetapi Allah Mahatahu apa-apa yang   ada di dalam hati, Maha Mengetahui yang tersembunyi, Maha Penolong   kepada orang yang terzhalimi, Dzat yang apabila berkehendak melakukan   sesuatu, maka hanya dengan mengatakan, “Jadilah”, maka jadilah ia.</p>
<p>Tatkala ibunya telah sampai pada posisi tasyahud, kedua mata anaknya   itu memerah dan anggota badannya gemetar. Dia menoleh ke kanan dan ke   kiri, tidak ada seorang pun yang datang. Dia pun mengangkat batu yang   ada di tangannya, dari belakang ibunya, hendak menjatuhkan batu itu ke   kepala ibunya dan memecahnya menjadi dua. Namun tidak lama kemudian,   ibunya mendengar teriakan keras dari anaknya. Dalam keadaan takut dia   menoleh ke anaknya untuk mengetahui apa yang terjadi? Ternyata dia   melihat anaknya tenggelam ditelan bumi. Tangannya yang membawa batu   telah lumpuh dan tidak dapat menggerakkannya. Maka sang ibu pun   berteriak menangisi anak satu-satunya, “Anakku, ya Rabbi, aku tidak   punya anak selainnya…, apa yang terjadi padamu anakku?”</p>
<p>Dengan kedua tangannya yang penuh belas kasihan, sang ibu mengeluarkan anaknya dari bumi yang menelannya seraya mengatakan, <em>“Sekiranya aku mati tanpa terjadi hal ini padamu wahai anakku.” </em><br />
Sungguh, Allah Yang Mahakuasa telah membalas anak durhaka ini. (<em> Aqibah Uquq al-Walidain</em>, hal. 69-71)</p>
<p><strong>Sumber:</strong><em>“Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga”</em>, karya : Ghalib bin Sulaiman bin Su’ud al-Harbi. Edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta.<br />
Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/lumpuhnya-tangan-seorang-anak-yang-berusaha-membunuh-ibunya/www.Kisahmuslim.com" target="_blank">www.Kisahmuslim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/714/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=714&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/lumpuhnya-tangan-sorang-anak-yang-berusaha-membunuh-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata-mata dan Dajjal yang Pasti Akan Datang</title>
		<link>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/mata-mata-dan-dajjal-yang-pasti-akan-datang/</link>
		<comments>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/mata-mata-dan-dajjal-yang-pasti-akan-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 05:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamcinta.wordpress.com/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[Dari Amir bin Sarahil Asy-Syab’bi, bahwasanya dia bertanya kepada Fathimah bin Qais, adik Adh-Dhahak bin Qais. Fatimah adalah termasuk salah seorang wanita yang turut serta berhijrah pada periode awal. Amir berkata, ”Sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang engkau dengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak kamu nisbatkan kepada orang lain!” Lalu Fathimah berkata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=711&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Amir bin Sarahil Asy-Syab’bi, bahwasanya dia bertanya kepada  Fathimah bin Qais, adik Adh-Dhahak bin Qais. Fatimah adalah termasuk  salah seorang wanita yang turut serta berhijrah pada periode awal. Amir  berkata, ”Sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang engkau dengar langsung  dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang tidak kamu nisbatkan kepada orang lain!”</p>
<p>Lalu Fathimah berkata, “aku telah menikahi Al-Mughirah. Pada saat itu,  ia merupakan pemuda Quraisy yang terbaik, kemudian ia tertimpa musibah  (terbunuh) pada awal jihad bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Tatkala aku menjanda, Abdurrahman bin Auf meminang aku melalui sekelompok sahabat Nabi. Sementara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melamar aku untuk budaknya, Usamah bin Zaid. Ketika itu aku pernah  diberitahu bahwa Rasulullah berbsabda, ‘Barangsiapa mencintai aku, maka  hendaklah ia mencintai Usamah.’</p>
<p>Maka, tatkala Rasulullah mengajak aku berbicara, aku menjawab,  ‘Terserah engkau, nikahkanlah aku kepada siapa saja yang engkau  kehendaki.’<span id="more-711"></span></p>
<p>Kemudian beliau memerintahkan agar aku pindah ke rumah Ummu Syarik,  ia adalah wanita Anshar yang kaya raya. Sumbangsihnya begitu besar dalam  perjuangan di jalan Allah. Para tamu selalu singgah di rumahnya.<br />
Lalu aku menjawab, ‘Akan aku lakukan.’</p>
<p>Tiba-tiba beliau berkata, ‘Jangan kamu lakukan itu karena Ummu Syarik  mempunyai banyak tamu, sementara aku tidak suka jika kain kerudungmu  terlepas dan betismu tersingkap, kemudian orang-orang itu melihat  hal-hal yang tidak kamu sukai. Akan tetapi, pindahlah ke rumah sepupumu,  Abdullah bin Amr bin Ummi Maktum.’ Dia adalah pria Bani Fihr, yakni  Fihr Quraisy. Dia lahir dari qabilah yang sama dengan Fathimah.</p>
<p>Kemudian aku pindah ke rumah sepupuku itu. Setelah masa iddahku  selesai, aku mendengar seorang muazin berseru. Muazin Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu menyeru untuk shalat jamaah. Lalu aku keluar menuju mesjid,  kemudian shalat bersama Rasulullah. Pada waktu itu, aku berada pada shaf  wanita paling depan.</p>
<p>Tatkala Rasulullah telah menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di  atas mimbar sambil tertawa, kemudian bersabda, ‘Hendaknya masing-masing  orang tetap duduk di tempat shalatnya.’ Beliau melanjutkan, ‘Apakah  kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan  Rasul-Nya yang lebih tahu.’</p>
<p>Beliau bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak mengumpulkan kalian untuk  memberikan semangat, dan bukan mengintimidasi. Aku mengumpulkan kalian  karena Tamim Ad-Dari dulunya seorang Nasrani, kemudian ia datang  berbai’at dan masuk Islam. Ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang  sama seperti apa yang telah aku kisahkan kepada kalian tentang Dajjal.</p>
<p>Ia bercerita bahwa ia pernah mengarungi laut dengan kapan laut  bersama 30 orang dari suku Lakham dan Judzam, kemudian mereka  dipermainkan ombak selama sebulan di tengah laut, lalu mereka berlabuh  di sebuah pulau di tengah laut hingga matahari akan terbenam.</p>
<p>Kemudian mereka duduk-duduk di perahu kapal dan masuk ke pulau itu.  Lalu, sesuatu yang berambut lebat dan tebal menemui mereka. Mereka tidak  mengetahui mana bagian depan dan mana belakangnya karena banyak  rambutnya. Mereka bertanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Aku  adalah <em>Al-Jassasah</em> (mata-mata).’ Mereka bertanya, ‘Apa itu <em>Al-Jassasah</em>?’ Ia menjawab, ‘Wahai kaum, pergilah ke pria yang berada di padepokan gua itu, ia ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’</p>
<p>Tamim berkata, ‘Tatkala binatang tadi menyebutkan seorang pria kepada  kami, kami pun takut kalau sekiranya pria itu setan. Kemudian kami  bergegas pergi hingga memasuki gua itu. Ternyata di dalamnya ada seorang  pria yang sangat besar. Kami belum pernah melihatnya, ia sedang di  belenggu dengan kuat dan erat. Kedua tangannya terikat sampai lehernya,  di antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya di belenggu dengan  besi.</p>
<p>Lalu kami bertanya kepadanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Dia menjawab,  ‘Kalian telah mengetahui tentang aku, maka beritahukan siapakah kalian?’  Kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang dari bangsa Arab. Kami berlayar  dengan menaiki sebuah kapal laut. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh laut  yang mengamuk, lalu kami dipermainkan ombak selama sebulan. Selanjutnya,  kami mengungsi ke pulau kamu ini, lalu kami pun duduk di perahu kapan  dan masuk pulau. Kemudian binatang berambut lebat dan tebal menemui  kami, kami tidak tahu bagian mana depan dan mana belakangnya karena  banyak rambutnya.</p>
<p>Lalu kami bertanya, ‘Celaka, siapa kamu ini?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah <em>Al-Jassasah</em>,’ lalu kami bertanya, ‘Apakah <em>Al-Jasssasah</em> itu?’ Dia berkata, ‘Pergilah ke pria yang berada di gua itu karena ia  ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’ Lalu kami bergegas menuju  anda, kami kaget setelah melihatnya dan merasa takut, siapa tahu itu  adalah setan.’</p>
<p>Selanjutnya pria itu meminta, ‘Ceritakan kepadaku tentang pohon kurma  Baisan!’ Kami balik bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Ia  menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian apakah pohon kurma tersebut sedang  berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya’, Ia berkata, ‘Bukankah ia hampir tidak  berbuah?’</p>
<p>Dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang danau Ath-Thabariyyah.’  Kami bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya,  ‘Apakah di dalamnya masih ada air?’ Mereka menjawab, ‘Airnya banyak.’  Dia berkata, ‘Bukankah airnya hampir kering?’</p>
<p>Pria itu meminta lagi, ‘Ceritakan kepadaku tentang mata air Zughar.’  Mereka menjawab, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya,  ‘Apakah di dalamnya masih ada air, dan apakah penduduk sekitarnya  bercocok tanam dengan airnya itu?’ Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak dan  penduduk bercocok tanam dengan menggunakan airnya.’</p>
<p>Ia berkata, ‘Ceritakan kepadaku tentang Nabi yang ummi itu, apa yang  telah dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Nabi itu telah keluar dari Mekkah  dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah orang Arab  memeranginya?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana ia  memperlakukan mereka atau apa yang ia perbuat terhadap mereka?’ Kami pun  menyampaikan bahwa nabi tersebut telah menundukkan orang-orang Arab  yang mendatanginya dan mereka taat kepadanya.</p>
<p>Dia bertanya, ‘Apakah hal itu telah terjadi?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia  berkata lagi, ‘Ingatlah bahwa sebaiknya mereka mematuhinya, dan aku  memberitahukan kepada kalian tentang diriku, sesungguhnya aku adalah <em>Al-Masih Ad-Dajjal</em>,  dan aku hampir diperbolehkan keluar (muncul). Aku akan muncul dan  berjalan di muka bumi. Aku tidak membiarkan sebuah kampung kecuali aku  menetap di dalamnya selama 40 malam, selain Mekkah dan Thaibah, karena  keduanya diharamkan bagiku.</p>
<p>Setiap kali aku akan memasuki salah satunya, seorang malaikat akan  menyambutku dengan pedang terhunus. Ia menghalangiku, dan pada tiap  celah jalan-jalannya terdapat malaikat yang menjaganya.’”</p>
<p>Fathimah berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda sambil beliau menusukkan tongkatnya di mimbar, ‘Inilah Thaibah  itu, inilah Thaibah itu, inilah Thaibah itu –-yakni Madinah—-. Ingatlah,  bukankah aku telah menyampaikan haditsku ini? Para sahabat menjawab,  ‘Ya.’</p>
<p>Bahwasanya kisah yang disampaikan Tamim telah mencengangkanku.  Ceritanya persis dengan kisah yang aku ceritakan kepada kaian, juga  tentang Madinah dan Mekkah. Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal itu berada  di Laut Syam atau Laut Yaman! Tidak, tetapi dari arah timur dan beliau  mengisyaratkan tangannya ke arah timur.’</p>
<p>Aku hafal hadits ini dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.”<br />
(HR. Muslim, no. 2942 dan Abu Daud, no. 4352)</p>
<p>Sumber: <em>61 Kisah Pengantar Tidur</em>, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan VI, 2009.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh redaksi <a href="http://kisahmuslim.com/mata-mata-dan-dajjal-yang-pasti-akan-datang/www.kisahmuslim.com" target="_blank">www.kisahmuslim.com</a>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamcinta.wordpress.com/711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamcinta.wordpress.com/711/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamcinta.wordpress.com&amp;blog=4125055&amp;post=711&amp;subd=islamcinta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamcinta.wordpress.com/2011/03/31/mata-mata-dan-dajjal-yang-pasti-akan-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa319981dc65c8561cda6aebf1305dbf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rizal</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
