Muflis (Orang yang Pailit)

Posted: 26 April 2011 in Kisah Nyata

Saat menunggu penerimaan gelar Doktor, saya mengambil cuti dua minggu. Pada suatu malam, saya membaca dan mengulang-ngulang kembali materi tulisan disertasi saya. Saat itu waktu menunjukkan waktu pukul dua malam. Tiba-tiba timbul keinginan kuat dalam diri saya untuk datang ke rumah sakit. Maka saya membawa buku-buku dan pergi ke rumah sakit.

Setibanya di bagian Urologi (saluran kencing), seorang perawat berkebangsaan Inggris mengatakan kepadaku, “Dokter, ada seorang pasien yang sedang menghadapi sakaratul maut, saya harap anda mau menyalatinya -maksudnya ialah mentalqininya-.”
Saya menanyakan penyakit pasien tersebut. Ia menjawab, “Ia terserang kanker Urinary Bladder (kandung kemih). Kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya hingga mencapai otaknya. Pasien tersebut telah hilang kesadarannya sejak empat minggu yang lalu. Baca entri selengkapnya »

Pada suatu malam, Muhammad Ibnu al-Munkadir melakukan Qiyamullail, ia menangis bahkan semakin keras menangis sehingga keluarganya kaget lalu bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis seperti ini.?” Mereka merasa heran, apalagi tangannya semakin keras.

Kemudian keluarganya menemui Abi Hazm untuk memberitahukan masalah ini. Abu Hazm datang ke rumahnya sementara ia pun masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang membuatmu menangis seperti ini, tangisan yang membuat keluargamu keheranan.?” Dia menjawab, “Aku tadi membaca salah satu ayat al-Qur’an.” Beliau bertanya, “Aya apa gerangan.?” Ia menjawab, “

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS.az-Zumar:47) Baca entri selengkapnya »

Abdullah bin Muhammad berkata, “Suatu hari aku berjalan-jalan ke pantai dengan dikawal gerobak Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai ternyata aku tiba di Bathihah.Di pantai ini ada sebuah kemah, dihuni seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya, sementara pendengaran dan penglihatannya lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisan.Dengan lisan itu ia memanjatkan doa, ‘Ya Allah berikanlah kepadaku kemampuan untuk senantiasa memujiMu. Dengannya aku dapat memuaskan diriku dalam mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan Engkau benar-benar telah memuliakan (melebihkan) aku dari segenap makhlukMu’.” Baca entri selengkapnya »

Dia menjadi tawanan bangsa Romawi, dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yang kejam. Di dalam penjara disediakan minuman yang dicampur arak dan daging babi panggang, untuk dimakan saat lapar dan minum khamar, ketiga macam suguhan itu sama sekali tidak disentuhnya.

Lalu ia dikeluarkan dari penjara saat mereka mengkhawatirkan kematiannya. Dia berkata pada dirinya, “Demi Allah, sesungguhnya ini semua telah menjadi halal bagiku karena aku dalam kondisi terpaksa, hanya saja aku tidak ingin berbahagia di atas bencana yang menimpa kalian dengan sebab berpegang teguh pada Islam.” Baca entri selengkapnya »

Dari Nafi’ pelayan Ibnu Umar berkata, “Apabila Ibnu Umar sangat mengagumi sesuatu dari hartanya, niscaya ia akan mempersembahkannya kepada Allah Ta’ala.” Nafi’ berkata, “Dan hamba sahayanya mengetahui akan hal itu lalu ada salah seorang dari budak-budaknya bersemangat untuk beribadah di masjid, dan ketika Ibnu Umar melihat keadaan dirinya yang bagus tersebut, maka dia memerdekakan hamba tersebut, namun para sahabatnya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah, tidaklah mereka itu kecuali hanya membohongimu.’ Ibnu Umar menjawab, ‘Barangsiapa yang berdusta terhadap kami karena Allah niscaya kami tertipu karenaNya’.” ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 1/294) Baca entri selengkapnya »

Yazid bin al-Kumaid berkata, “Abu Hanifah adalah seorang imam yang sangat takut kepada Allah. Suatu ketika Ali bin al-Husain, sang muadzin mengimami kami dalam Shalat Isya’, dia membaca surat az-Zilzalah. Sementara itu Abu Hanifah menjadi makmum. Setelah selesai mengerjakan shalat, orang-orang pulang ke rumah masing-masing, sedangkan aku melihat Abu Hanifah masih berdzikir sambil menarik nafas.

Aku berkata, ‘Aku harus beranjak dari tempat ini!, agar hatinya tidak terganggu oleh kehadiranku.’ Kemudian aku pulang sementara lampu minyakku yang tinggal sedikit aku tinggalkan untuk penerangan dalam masjid.

Setelah fajar menjelang, aku datang lagi ke mesjid. Aku me-lihat Abu Hanifah sedang shalat, dia memegang jenggotnya sambil berkata, ‘Wahai Dzat yang membalas kebaikan sebesar biji sawi dengan kebaikan, Wahai Dzat yang membalas keburukan sebesar biji sawi dengan keburukan, jauhkanlah an-Nu’man hambaMu ini dari api Neraka dan dari perbuatan buruk yang mendekatkan kepada api Neraka. Masukkanlah ia ke dalam rah-matMu yang sangat luas.’

Kemudian aku mengumandangkan adzan, tiba-tiba lampu minyak itu menyala terang menerangi Abu Hanifah yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Ketika aku menemui beliau, beliau bertanya, ‘Apakah kamu ingin mengambil lampu minyak itu?’ Aku menjawab, ‘Aku tadi telah mengumandangkan adzan shalat Shubuh.’ Beliau berkata, ‘Rahasiakan apa yang kamu lihat.’

Abu Hanifah kemudian shalat sunnah dua raka’at lalu duduk sehingga aku mengumandangkan iqamah. Beliau shalat bersama kami dengan wudlu yang beliau gunakan ketika shalat Isya’ semalam. (Sejak mengerjakan shalat Isya’ hingga Shubuh, wudhu’ beliau tidak batal-pent)

(SUMBER: Seperti dinukil dari Wafyatul A’yan, 5/412)

Air Mata Taubat

Posted: 10 April 2011 in Kisah Teladan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]). Baca entri selengkapnya »

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya. Baca entri selengkapnya »

Telah diriwayatkan, bahwa ada seorang anak yang durhaka memiliki istri pelacur yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Ibunya sering menasihatinya akan kejelekan istrinya. Akan tetapi dia tidak mendengar nasihat sang ibu karena terpengaruh dengan istrinya. Istrinya adalah seorang pelacur yang bukan berasal dari negerinya dan bukan dari daerahnya. Maka dari itu, bagi orang yang hendak menikah, hendaklah dia berhati-hati agar tidak menikah dengan seorang perempuan yang tidak diketahui keluarga dan orang-orang yang ada di sekitarnya, agar dia tidak binasa dengan kesudahan yang tidak dia inginkan. Ketika terjadi perselisihan antara dia dengan ibunya, maka dia berniat membunuh ibunya agar berlepas diri darinya, sebagaimana yang disarankan oleh istrinya. Maka dia berkata kepada ibunya, “Maukah ibu pergi jalan-jalan bersamaku?” Baca entri selengkapnya »

Dari Amir bin Sarahil Asy-Syab’bi, bahwasanya dia bertanya kepada Fathimah bin Qais, adik Adh-Dhahak bin Qais. Fatimah adalah termasuk salah seorang wanita yang turut serta berhijrah pada periode awal. Amir berkata, ”Sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang engkau dengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak kamu nisbatkan kepada orang lain!”

Lalu Fathimah berkata, “aku telah menikahi Al-Mughirah. Pada saat itu, ia merupakan pemuda Quraisy yang terbaik, kemudian ia tertimpa musibah (terbunuh) pada awal jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala aku menjanda, Abdurrahman bin Auf meminang aku melalui sekelompok sahabat Nabi. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar aku untuk budaknya, Usamah bin Zaid. Ketika itu aku pernah diberitahu bahwa Rasulullah berbsabda, ‘Barangsiapa mencintai aku, maka hendaklah ia mencintai Usamah.’

Maka, tatkala Rasulullah mengajak aku berbicara, aku menjawab, ‘Terserah engkau, nikahkanlah aku kepada siapa saja yang engkau kehendaki.’ Baca entri selengkapnya »